“Ape started war, and human will not forgive…”

Adalah kalimat yang di ucapkan Caesar kepada Malcolm sebagai sebuah perpisahan di Dawn of the Planet of the Apes (2014), setelah keduanya berhasil meredakan konflik yang terjadi di antara ras Ape dan kelompok besar umat manusia yang tersisa di San Fransisco.

Kalimat tersebut sekaligus menjadi nubuatan Caesar bahwa perang antar kedua ras tersebut masih akan terus berlanjut tanpa bisa dihindari. Akan ada yang menyerang, akan ada yang membalas.

Akan ada yang bertahan, akan ada yang binasa. Sebuah konflik yang sudah terlanjur tercipta akibat keteledoran umat manusia dan kemarahan ras Ape. Di satu sisi, sebuah virus mematikan terlanjur menyebar dan dengan seketika menyapu bersih populasi umat manusia di bumi. Hanya ras Ape yang mampu bertahan dari virus mematikan tersebut. Hanya ras Ape yang mampu melanjutkan hidup di tengah ganasnya iklim bumi yang berubah-ubah tanpa bantuan teknologi dan pembangkit listrik.

Sinopsis

Kejadian dalam War for the planet of The Apes hanya berlangsung beberapa tahun setelah film keduanya. Permulaan film diawali dengan usaha sekelompok tentara yang mencari keberadaan Caesar dan kelompok besar ras Ape yang dipimpinnya.

Tentara ini datang ke San Fransisco setelah mendengar laporan lewat radio dari kelompok umat manusia yang tersisa di San Fransisco dalam film keduanya. Tentara ini dipimpin oleh seorang kolonel yang pandai dan bengis, yang tujuan utamanya adalah mencari pemimpin ras Ape yang menyerang para survivors di San Fransisco.

Sang kolonel mengutus sekelompok tentara ini dengan bantuan beberapa ras Ape yang membelot dari Caesar. Mereka adalah sisa-sisa pengikut Koba yang ikut memberontak terhadap Caesar.

Setelah Koba mati dikalahkan Caesar dalam film kedua, kelompok ini tidak kembali bergabung dengan Caesar, melainkan mengabdikan dirinya kepada gerombolan tentara umat manusia sebagai pembantu, juga sebagai pemandu dan informan untuk mengetahui posisi dan keberadaan Caesar dan ras Ape yang dipimpinnya. (Hal ini sebetulnya merupakan sebuah ironi, sebab Koba sendiri memberontak terhadap Caesar karena sang pemimpin begitu lembut terhadap umat manusia yang mengancam kelangsungan hidup ras Ape. Tapi begitu Koba mati, mereka malah mengabdi kepada umat manusia yang lebih bengis dari sebelumnya ketimbang kembali kepada Caesar. Well, sangat bertolak belakang).

Usaha pencarian kelompok ini berakhir gagal. Sebagian besar dari mereka mati ketika mencoba menyerang kubu pertahanan kelompok Caesar.

War of the Planet of the Ape Review

Hanya beberapa orang yang berhasil selamat. Orang-orang ini menjadi tawanan, sekaligus mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan Caesar, sang pemimpin agung ras Ape, simpanse generasi pertama yang mendapatkan pengetahuan dan kemampuan bicara seperti manusia lewat percobaan ilmiah yang terjadi dalam film pertama.

Caesar yang masih mewarisi sifat kemurahan hati umat manusia, sifat yang diwarisinya dari sang ayah-manusia, ilmuwan Dokter Will Rodman (James Franco); memutuskan untuk membebaskan tawanan tersebut dan memberikan pesan khusus kepada mereka untuk disampaikan kepada sang kolonel.

Pesan yang berisi pernyataan bahwa Ape ingin tinggal dengan damai di tempatnya saat ini, bahwa Ape yang melakukan provokasi untuk menyerang kelompok manusia di San Fransisco, yaitu Koba, telah mati dikalahkan oleh Caesar.

Setelah pembebasan tawanan tersebut, kelompok Caesar jatuh ke dalam situasi harap-harap cemas. Sebagian tidak yakin kalau ras manusia mau menerima pesan tersebut. Beberapa ras Ape kawan dekat Caesar menjadi takut dan kehilangan keberanian.

Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berpindah tempat tinggal, pergi menuju ke tempat baru yang sulit untuk dijangkau dan di temukan oleh umat manusia. Caesar sebagai Ape yang paling kuat diantara mereka, menyetujui gagasan tersebut dan memerintahkan mereka untuk segera melakukan rencana dan persiapan-persiapan. (Lihat Trailer War of the Planet of the Ape di halaman selanjutnya)

Sebuah persiapan yang matang karena jalan menuju ke tempat baru tersebut akan melewati padang gurun yang tandus, belum lagi ancaman umat manusia yang mungkin akan ditemui di tengah-tengah perjalanan.

Di tengah malam sebelum perjalanan akan dimulai esok hari, Caesar terbangun karena melihat sesuatu yang mencurigakan tampak berkelebat di tengah kegelapan malam.

Insting berburunya muncul dan menyadari ada sesuatu yang mengancam. Sebelum melakukan patroli lebih jauh dengan para penjaga malam, Caesar memerintahkan sang putra tertua untuk melindungi sang ibu dan adiknya yang masih kecil, bersembunyi di tempat yang aman.

Bersama dengan para Ape yang lain, Caesar menyusuri setiap lorong dalam tempat persembunyian dan mendapati bahwa sekelompok grup tentara pimpinan sang Kolonel telah menyusup masuk ke dalam tempat persembunyian mereka.War of the Planet of the Ape Review

Satu persatu tentara tersebut berhasil dilumpuhkan, hingga akhirnya Caesar mendengar suara, sebuah perintah yang tak masuk akal, dari walkie-talkie milik salah seorang prajurit yang telah dilumpuhkan.

“Caesar telah mati, tarik mundur pasukan…” Kembali menyadari ada sesuatu yang salah, dengan segera Caesar bergerak menuju ke tempat sang istri dan kedua puteranya berada.

Pemandangan yang dilihatnya begitu kontras dengan harapan baru yang akan dimulai lewat perjalanan yang sudah direncanakan keesokan hari. Sang Istri dan putera tertua tergelatak mati bersimbah darah berdampingan, puteranya yang kecil tak tampak dan menghilang entah kemana.

Tak jauh beberapa meter dibalik kegelapan, tampak sosok seorang pria bersenjata bersiap-siap untuk pergi. Caesar berteriak dengan ganas padanya.

Dengan seketika sosok tersebut berbalik menghadap Caesar sambil menodongkan senjatanya. Sang kolonel menampakan mukanya, tersenyum licik penuh kemenangan…

War of the Planet of the Ape Review

War of the Planet of the Ape Review

Planet of the Apes adalah sebuah pertunjukan opera layar kaca yang pertama kali dibuat pada tahun 1968, berbarengan dengan 2001: A space Oddysey-nya Stanley Kubrick.

Dua film ini digadang-gadang sebagai Pioneer lahirnya era film Science-Fiction di Hollywood. Setelah itu menyusul franchise Star Wars, Alien, Blade Runner, Terminator dan lain-lain.

Film ini di reboot kembali pada tahun 2011 dengan judul Rise of the Planet of the Apes. Sutradara Matt Reeves telah membuat sekuel yang baik dari franchise baru trilogi Planet of the Apes ini.

Di seri yang ketiga ini, Matt membawa perjalanan Caesar dan kelompoknya lebih jauh lagi. Kita tidak akan melihat lagi Jembatan Golden Gate di San Fransisco yang menjadi batas koloni Apes dan umat manusia yang tersisa di San Fransisco, serta keadaan kota San Fransisco yang telah menjadi puing-puing post apocalyptic. Kali ini pemandangan akan lebih banyak ditampilkan di hutan, di pantai dan sebagian besar daerah-daerah bersalju.

Well, kalau ada film paling konyol yang bakal membuat orang mengurungkan niat untuk menontonnya, mungkin franchise Planet of the Apes bisa menjadi salah satunya. Dimana logikanya simpanse dan sekumpulan monyet bisa berbicara dan melawan manusia dengan senjata sambil menunggangi kuda? terdengar tidak masuk akal, membayangkannya saja sulit. Tapi untungnya, franchise ini dibangun dengan pondasi cerita yang kuat.

Seri pertamanya yang dimainkan dengan luar biasa oleh aktor James Franco yang berperan sebagai ayah adopsi Caesar, sang ilmuwan yang mengajari Caesar kecil berbicara, mengenal huruf dan melakukan kebiasaan-kebiasaan manusia; berhasil memperlihatkan hubungan yang indah antara human & animal.

Banyak momen yang begitu menyentuh hati, setiap tindakan di dasari atas motivasi-motivasi yang jelas, tak ayal membuat penonton bisa langsung bersimpati kepada sosok Caesar, simpanse yang lahir dari hasil percobaan para ilmuwan.

Dalam film ketiganya kali ini, ada beberapa perkembangan yang terjadi. Yang paling tampak adalah cara Caesar berbicara yang semakin lancar mengucapkan kalimat tanpa harus tertahan-tahan seperti pada film keduanya, Dawn of the Planet of the Apes (2014).

Vocabulary Caesar semakin banyak dan mampu mengucapkan kalimat dengan begitu lancar layaknya manusia. Kemampuan berbicara ini tertular pada sebagian Ape yang lain dalam kelompoknya, walau masih belum sebaik yang dimiliki Caesar.

Jelas terlihat disini bahwa ras Apes semakin setara dengan manusia dan memiliki peluang untuk mendominasi planet yang bumi yang porak poranda akibat virus yang tercipta di laboratorium tempat dimana Caesar dilahirkan.

Teknologi motion-capture yang digunakan dalam film ini sangat halus dan real. Teknologi yang dulunya digunakan oleh sutradara Peter Jackson untuk memvisualisasikan Gollum dalam LOTR dan saat ini begitu massive digunakan dalam industri game lewat sinematik trailer dan animasi pergerakan karakter, semakin sempurna penggunaannya dalam film War for the Planet of the Apes ini.

Andy Serkis, aktor yang menjadi peraga gerakan karakter Caesar lewat teknologi ini, bermain dengan luar biasa dan mampu menampilkan mimik atau ekspresi wajah yang pas dan tepat, bersinkronasi dengan baik sesuai dengan atmosfer yang ingin ditampilkan.

Begitupun dengan aktor-aktor lain yang memerankan sebagian Apes. Well, bisa dibilang, penggunaan teknologi motion-capture berada pada puncak terbaiknya lewat film ini. Good job Weta Digital..!

Di dua film sebelumnya, selalu ada tokoh protagonist yang menjadi a good man atau ‘teman baik’ Caesar. Di film ketiganya kali ini, terdapat sosok baru, dua sosok baru tepatnya, yang berperan cukup signifikan dalam alur cerita kali ini.

Karakter seorang remaja perempuan yang entah bagaimana kebal dari virus mematikan yang telah membunuh banyak manusia (ini adalah karakter penting yang akan disiapkan untuk seri ke empat, yupz, sudah di confirm akan ada film yang ke empat..!)

Dan satu sosok simpanse baru yang bisa berbicara lancar seperti manusia layaknya Caesar..! karakter simpanse ini membawa humor tersendiri di tengah keadaan yang terlihat suram dan menyedihkan.

Karakter Kolonel yang tenang namun bengis, berhasil dimainkan dengan baik oleh aktor Woody Harrelson. Sikap tenang, pembawaannya dan style karakternya, mengingatkan pada sosok karakter Kolonel Kurtz yang begitu melegenda yang diperankan oleh aktor watak alm. Marlon Brando (The Godfather) dalam Apocalypse Now (1979). Apakah ini meniru atau terinspirasi..? entahlah, yang pasti Woody memainkan karakter ini dengan caranya sendiri.

War for the Planet of the Apes adalah film yang digarap dengan serius dan sepenuh hati. Kalau ada daftar trilogi yang alur cerita dan pengembangan karakternya meningkat seiring waktu berjalan, reboot franchise ini pasti masuk di dalamnya.

Bagi mereka yang terus penasaran dengan kisah perjalanan hidup Caesar semenjak dari film pertamanya, film ketiga ini tentu tidak boleh dilewatkan. Apakah bisa menonton film ini tanpa menonton film pertama dan keduanya? bisa saja, tapi tidak akan maksimal menyelami dan memahami karakter Caesar dan segala tindakan-tindakannya, walau di awal film telah disediakan prolog tertulis yang menceritakan kejadian yang terjadi di film sebelumnya.

Facebook Comments
TINJAUAN IKHTISAR
Overall
8.5
BAGIKAN
Berita sebelumyaKingsman The Golden Circle (2017) Top Trailer Minggu Ini